Selasa, 26 Maret 2013

Berawal dari Timnas Brazil berakhir di Klub LFC

Tim Samba menghipnotis saya dan warga sekampung

How could i fall in love with football?

Kami sekeluarga menyukai olahraga ini. Mama waktu muda dulu mengidolakan Timnas Brazil hingga sekarang. Kemudian Papa pernah aktif menjadi pengurus club sepakbola kecamatan tempat kami tinggal. Bahkan beliau pernah menjadi manager club bernama Tirrik Lada FC (klub kecamatan). Meskipun hanya tingkat kecamatan, but it was make me proud of him. He's doing everything with pleasure. Saya memiliki seorang adik laki-laki yang menyukai Francesco Totti namun kemudian menjadi Madridista hingga sekarang.
 
Sepakbola memang merupakan salah satu olah raga favorit di kampung saya. Bahkan waktu SD dulu saya sangat rajin menonton pertandingan bola antar klub kecamatan yang diadakan jelang perayaan 17-an. Yaa saya menonton secara langsung, berdiri di tepi lapangan dan ikut bersorak mendukung klub bola favorit.

Kemudian tahun 1998 untuk pertama kalinya jaringan televisi yang terbatas di kampung kami akhirnya bisa mengakses pertandingan piala dunia yang kala itu digelar di Prancis. Brazil adalah timnas favorit saya. Bukan tanpa sebab, kala itu hampir semua penduduk kampung mendukung Brazil  yang memiliki pemain-pemain hebat seperti Ronaldo, Cafu, Roberto Carlos, dll.  Saya telah mendengar betapa hebatnya pemain-pemain yang dimiliki oleh Tim Samba ini dari Om saya yang maniak bola. Pengetahun saya waktu itu hanya sampai sebatas mereka hebat dan bisa mencetak banyak gol. 

Meskipun kala itu Brazil gagal meraih juara setelah takluk oleh tuan rumah Perancis yang kemudian membuat saya tidak menyukai Tim Perancis hingga saat ini, saya tetap menyukai Brazil dan memfavoritkan mereka untuk piala dunia berikutnya. Ronaldo tentu saja menjadi pemain idola saya.

Seiring dengan berjalannya waku, saya mulai mengetahui beberapa pemain sepak bola lainnya yang menurut orang adalah pemain-pemain hebat. Sebut saja Totti, Gabriel Batistuta, Hernan Crespo, David Beckham, Michael Owen,  dan Filippo Inzaghi. 
Saya menyukai David Beckham. Waktu itu saya sama sekali tidak tahu dia bermain untuk klub apa. Ketampanan dan gayanya di lapangan telah menghipnotis saya yang masih muda dan awam. Klub bola pertama yang saya kenal dan saya sukai adalah AC Milan.


Piala Dunia 2012, Perjuangan Penuh Haru

Kecintaan saya terhadap sepak bola tidak serta-merta membuat saya mengikuti dengan rajin pertandingan antar klub. Atau membuat saya memiliki salah satu klub favorit seperti beberapa teman saya yang menyukai AS Roma, Juventus, Manchester United atau AC Milan. 
Piala Dunia 2002 yang diadakan di Korea - Jepang membuat antusiasme saya untuk mengetahui sepak bola lebih banyak lagi. Kembali ada kejadian yang membuat saya semakin bangga pada sosok papa saya. Waktu itu lisensi penayangan Piala Dunia hanya diberikan kepada receiver tertentu pemenang tender. Salah satunya adalah Parabola  Matrix Soccer (Saya ingat bintang iklannya adalah Tukul). Alhasil di kampung saya antena parabola biasa saja tidak akan bisa menayangkan piala dunia. Pertandingan yang sangat ditunggu-tunggu warga sekampung. Termasuk kami sekeluarga.
Beberapa hari menjelang PD 2002, seluruh warga semakin gelisah. Dimana dan Bagaimana kita akan menonton? Jawabannya cuma satu, beli receiver Matrix Soccer. Tapi yaa harganya jangan ditanya lagi. Termasuk mahal dikala itu dan menjadi barang cukup langka mengingat peminatnya selangit. Beberapa warga memutuskan untuk pergi ke kota kecamatan agar bisa menonton. Namun tentu saja hal itu tidak bisa dilakukan setiap hari selama sebulan penuh. Terlebih hanya beberapa orang saja yang tentunya memiliki kendaraan dan uang yang cukup untuk biaya transportasi ke kota.
Then a brilliant idea came from my daddy's brain. Menggunakan kendaraan roda dua, kedua orang tua kami berangkat ke Kota Rantepao. Dan sore ketika mereka pulang, mereka membawa serta receiver Matrix Soccer. Wowwww!!!!!! Saya sangat gembira. Adik saya demikian. Dan warga kampung juga turut berbahagia. Apalagi saat ayah memutuskan bahwa parabola itu tidak akan dipasang di rumah kami yang tidak cukup menampung penduduk sekampung.
Di kampung kami ada sebuah gedung serba guna yang baru saja direnovasi seadanya. Disitulah sang masterpiece dipasang. Kami sekampung pun bisa menonton Pertandingan Piala Dunia 2012 dengan aman dan nyaman.
Dan inilah benda segi empat itu....

Thanks God, Thanks Daddy... Love you more...


 AC Milan dan Kliping Bola

 Ada salah satu teman saya bernama Leksi. Dia yang sangat rajin membeli majalah bola. Ketika terlintas di benak saya untuk membuat kliping mengenai "ALL ABOUT WORLD CUP 2002" serta informasi-informasi mengenai pemain bola dan klub, dia rela menyumbangkan semua majalah bolanya untuk saya gunting lalu saya jadikan kliping. Dan kliping itu masih saya simpan hingga saat ini, (Nanti akan saya dokumentasi ulang lalu saya posting).

AC Milan - Saya sudah mengenal klub ini sejak SMP. Lalu sepupu saya bernama Angga yang sangat mencintai klub ini membagikan pengetahuannya tentang klub besar asal Italia ini. Jadilah saya mengenal sosok Inzaghi, Gattuso, Pirlo, Cafu, dll. 
Hingga Piala Dunia 2002 ke 2006, timnas andalan saya bertambah menjadi tiga yaitu Inggris, Brazil dan Italia. 

Lalu bagaimana dengan LIVERPOOL?

Terlalu dini bagi saya untuk mengakui bahwa saya adalah Kopite sejati. Sementara satu-satunya pemain Liverpool yang saya kenal adalah Steven Gerrard lewat karir  internasionalnya bersama Timnas Inggris pada piala dunia 2002. Steven Gerrard dan David Beckham, dua sosok yang membuat saya semakin mencintai timnas Inggris. Saya memiliki Poster Steven Gerrard berjersey Timnas Inggris dan poster AC Milan yang berdampingan di dalam kamar saya di kampung. (terakhir saya cek, tinggal poster StevieG yang bertahan)

Liverpool Made Me Believe That Miracles Are Real

Sosok Steven Gerrard yang begitu piawai menggiring bola dilengkapi dengan ketampanan dan kewibawaannya membuat saya semakin penasaran. Mulailah saya mencari informasi mengenai StevieG sebanyak-banyaknya. 
Puncaknya pada 2005, saat Final Liga Champion melawan AC Milan. klub mana yang akan saya dukung? AC Milan kah yang merupakan klub bola pertama yang saya kenal dan saya suka atau Liverpool kah yang saya idolakan karena sosok Steven Gerrard? Saya memilih untuk mengikuti jalannya pertandingan dengan kushyuk. Dalam hati berdebar-debar menanti siapa yang akan menjadi juara. 

Saat Liverpool tertinggal 3 - 0, air bening sudah menggenangi pelupuk mata. Jika AC Milan menang, di satu sisi saya akan senang. Mereka bermain sangat baik dan menguasai jalannya pertandingan. Toh saya masih mengidolakan mereka juga. Namun saya harus mempersiapkan separuh hati lagi untuk menangisi kegagalan Liverpool. 
Ketika laga memasuki babak kedua, Keajaiban itu perlahan tapi pasti terjadi. Semangat Juang The Reds yang bangkit dengan sangat cepat dan berkobar semakin besar tatkala Steven Gerrard mencetak gol pertama sontak membuat saya terperangah. Untuk pertama kalinya saya menyaksikan optimisme luar biasa yang ditunjukkan Steven Gerrard, Alonso, Cisse, Carragher, Riise dkk. 
Skor berakhir 3-3 dan adu penalti menjadi penentu kemenangan. Liverpool mengalami mujizat. Memang segalanya bisa terjadi selama 90 menit ditambah perpanjangan waktu. Namun saya sangat yakin seluruh dunia kala itu secara serentak mengakui bahwa yang terjadi di Istanbul adalah Mujizat. Liverpool membuktikan Mujizat itu Nyata. God an our right!!!

Magnet Mujizat Istanbul

Yaa.... Saya memutuskan menjadi Kopite setelah magnet mujizat Istanbul menarik saya semakin lengket pada klub Merah Merseyside ini. Bukan berarti kemudian saya tidak lagi mendukung AC Milan. Klub ini adalah salah satu klub terbesar dalam sejarah. Memiliki legenda-legenda yang berjuang pada Final Istanbul. Saya tetap respect terhadap Inzaghi, Maldini, Shevchenko, Gattuso, dan Pirlo. Saya tidak ingin disebut munafik. But however, The Reds memberikan lebih banyak hal pada saya. Bukan hanya pengetahuan soal sepak bola dan kemenangan. Ada semangat juang, optimisme, kekeluargaan, kepemimpinan, dan loyalitas yang tidak pernah mati hingga peluit akhir dibunyikan, tanda pertandingan selesai. 
Liverpool membuat saya semakin percaya bahwa Mujizat masih ada dan mujizat itu nyata. Liverpool membuat saya semangat untuk menyelesaikan pertandingan hidup yang meskipun susah payah, akhirnya bisa saya selesaikan kelak. And Liverpool teach me that I'LL NEVER WALK ALONE












Tidak ada komentar:

Posting Komentar