Saya bukanlah penggemar sepakbola lokal. Apalagi mengidolakan club lokal. Saya tidak mengenal baik PSM Makassar. Bukan karena saya tidak lahir dan dibesarkan di Makassar, namun karena saya memang tidak ingin menyukainya. Sama halnya saya tidak pernah lagi menonton timnas Indonesia setelah era Kurniawan Dwi Yulianto lewat. Well, apa yang bisa menjadi alasan bagi saya untuk menyukai timnas dan club lokal dalam hal ini PSM? TIDAK ADA. Jawaban singkat namun tidak perlu saya jelaskan sebab semua tahu kondisi persepakbolaan di Indonesia hingga saat ini.
Namun kemudian Timnas U-19 dan Indra Sjiafrie membuka mata saya bahwa sepakbola di negara yang berlimpah sumber daya lagi korup ini masih memiliki harapan. Harapan yang meskipun terus dikebiri orang-orang serakah yang selalu memanfaatkan setiap kesempatan untuk memperkaya diri sehingga mengabaikan infrastruktur olahraga yang paling dibutuhkan saat ini. Stadion sepak bola.
Miris rasanya melihat foto Stadion Andi Mattalatta di sebuah media lokal Makassar beberapa waktu lalu. TIDAK LAYAK. Lagi-lagi saya malas untuk menjelaskan ketidaklayakan yang memaksa PSM bermarkas di luar Sulawesi.
Sekali lagi saya bukanlah The Maczman (julukan untuk supporter loyal PSM Makassar). Namun sebagai orang yang menyukai sepakbola, saya tidak bisa menerima jika saya tinggal di Kota Makassar, kota metropolitan baru yang akan menjadi kota dunia dan TIDAK MEMILIKI STADION LAYAK.
Pada suatu kesempatan, saya bertemu dengan Walikota terpilih Kota Makassar, Danny Pomanto. Beliau juga adalah arsitek dan konsultan tata kota di Kota Makassar. Awalnya saya hanya mengobrol mengenai pluralisme di Kota Makassar. Namun entah mengapa, ketika percakapan kami akan berakhir, saya tergelitik untuk mengajukan pertanyaan kepada beliau.
"Pak apakah stadion PSM ada dalam program kerja bapak setelah pelantikan nanti?"
Dengan cepat beliau menjawab.
"Oh, ya tentu saja. Saya sudah pernah mengemukakan itu di media sebelumnya. Kita akan bangunkan stadion untuk PSM."
Setelah menjawab demikian, Pak Danny balik bertanya mengenai penyebab PSM batal bermarkas di Pare-Pare. (Rencana awal PSM dipindahkan dari Stadion Andi Mattalatta, Makassar ke Gelora Mandiri Pare-Pare). Saya menjawab seadanya bahwa sarana dan prasarana di Gelora Mandiri Pare-Pare sama tidak layaknya dengan yang di Makassar. Beliau hanya manggut-manggut. Kemudian melanjutkan jawabannya mengenai rencana pembangunan stadion baru untuk PSM.
"Untuk membangun stadion, kita butuh tanah seluas 6 ha. Dimana di Makassar kita bisa dapat tanah seluas itu? Satu-satunya jalan adalah reklamasi. Jadi, doakan saja, semoga semua pihak mendukung dan kita segera punya stadion baru'.
Jawaban itu seketika menjadi sebuah janji seorang Danny Pomanto kepada saya dan secara tidak langsung pada seluruh warga Kota Makassar. Dan suatu saat nanti akan saya tagih. Satu-satunya hal yang bisa saya lakukan kemudian adalah mendukung penuh dan mengawal proses realisasi program itu. Jika sendiri, maka sia-sia. Namun saya yakin, siapapun yang membaca tulisan ini akan memiliki keinginan yang sama yaitu Stadion Baru Untuk PSM Makassar. Ewako PSM, You'll Never Walk Alone.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar