Jika batasan itu memang ada mengapa tak bisa kulihat? Mengapa tak bisa menampar lamunanki agar segera tersadar dan berhenti memikirkanmu?
Sebab sejak aku bermimpi tentangmu menggenggam tanganku agar aku bisa tertidur nyaman, dan saat aku memintamu melepas genggaman lalu kau menolak, sejak saat itu pula aku tidak pernah berhenti memikirkanmu. Membayang-bayangkan kebersamaan kita. Mereka-reka perjalanan mencari kebahagiaan kita bersama dan menyusun cerita demi cerita tentang apa yang akan kita lakukan setahun, dua tahun, lima tahun bahkan sepuluh tahun mendatang. Tidak sedetikpun aku berhenti memikirkanmu. Bahkan namamu sudah kusebutkan dalam doaku. Aku merindukanmu wahai pemilik hatiku.
Jika kau hanya sebatas produk imajinasiku, lalu mengapa rindu ini begitu menyiksaku?
Mengapa tiap kali berpikir tentang hidup berdua, selalu kau yang muncul di kepalaku?
Mengapa aku begitu berani menyebut namamu dalam doaku?
Ya, karena aku percaya tidak ada tembok kemustahilan yang terlalu susah untuk kuruntuhkan selama aku percaya Tuhan bersamaku.
Aku akan sabar menunggu jawaban dari imajinasi ini menjadi kenyataan. Sembari merawat rindu ini agar tetap utuh hanya untukmu.
KD
Tidak ada komentar:
Posting Komentar